INDONESIANUPFDATE.ID, WATAMPONE | PELATARAN Perpustakaan Daerah Kabupaten Bone mendadak riuh oleh kehangatan yang berbeda. Tempat penyimpanan buku itu berubah menjadi ruang intim yang mempertemukan ide, cita-cita, dan rekam jejak. Festival Literasi (Feslit) Bone 2026 tidak sedang sekadar merayakan angka-angka minat baca, melainkan sedang membuka gerbang bagi sebuah kisah pengabdian yang mendalam.
Sorotan utama jatuh pada sebuah karya bertajuk “BupAAS: Jalan Pengabdian”. Buku ini bukan sekadar lembaran kertas bertinta, melainkan sebuah ikhtiar untuk menjahit rekam jejak, keringat, dan kebijakan Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman, ke dalam sebuah narasi abadi. Lewat bedah buku yang dinamis ini, publik diajak mengintip apa yang terjadi di balik tirai kepemimpinan daerah.
Di hadapan para pencinta literasi yang hadir, sang penulis, Muhammad Ashri Samad, duduk dengan senyum hangat. Ia tidak menempatkan diri sebagai pembicara yang berjarak, melainkan sebagai kawan cerita yang siap membagikan proses kreatifnya. Bagi Ashri, menulis buku ini adalah perjalanan emosional sekaligus intelektual untuk merekam sebuah masa bakti.
Sesi diskusi mengalir begitu cair ketika Ashri mulai membedah lembar demi lembar isi buku. Peserta yang memadati pelataran perpustakaan seolah diajak berjalan bersama menelusuri lorong waktu. Melihat bagaimana keputusan-keputusan penting diambil, dan bagaimana pelayanan masyarakat menyentuh akar rumput. Buku ini berhasil memanusiakan sosok pemimpin lewat sudut pandang yang jujur.
“Buku ini sebenarnya bukan sekadar tentang personal atau sosok seorang pemimpin,” ujar Ashri membuka obrolan dengan nada akrab. Ia menekankan bahwa esensi utama dari karyanya adalah tentang esensi sebuah tanggung jawab.
”Ada nilai universal mengenai bagaimana sebuah pelayanan publik dinilai bukan dari jabatannya, melainkan dari warisan kebaikan yang ditinggalkan,” jelas penulis berlatar belakang jurnalist ini.
Ashri berkisah bahwa merangkai perjalanan Andi Asman Sulaiman ke dalam untaian kata bukanlah perkara mudah. Tantangan terbesarnya adalah menyatukan kepingan pengalaman lapangan, visi politik, dan ketulusan personal menjadi satu kesatuan yang utuh. Ia ingin pembaca tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga merasakan denyut perjuangan di dalamnya.







