INDONESIANUPDATE.ID,MAKASSAR | Anggaran penelitian dua akademisi Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (FT UNM) menjadi sorotan. Total pendanaan penelitian untuk keduanya mencapai kisaran Rp6,4 miliar dalam kurun empat tahun, dengan jumlah keseluruhan 77 judul penelitian.
Besarnya nilai pendanaan tersebut disebut menuai perhatian sejumlah kalangan akademisi. Mereka menilai, anggaran penelitian dalam jumlah besar perlu diiringi luaran yang terukur, berkualitas, serta memberikan dampak nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Berdasarkan data yang dirujuk dari SINTA (Science and Technology Index), sistem informasi kinerja penelitian dan publikasi ilmiah yang dikelola pemerintah, dua guru besar yang menjadi sorotan dalam penelusuran ini adalah HAG dan BR.
Rinciannya, HAG tercatat memperoleh anggaran penelitian kisaran sebesar Rp2,45 miliar untuk 35 judul penelitian. Sementara BR memperoleh kisaran anggaran Rp3,95 miliar untuk 42 judul penelitian dalam periode empat tahun yang disebutkan.
Jika dijumlahkan, pendanaan kedua akademisi tersebut mencapai Rp6,4 miliar untuk 77 judul penelitian. Angka tersebut mencakup sekitar Rp1,6 miliar per tahun apabila dihitung berdasarkan rata-rata selama empat tahun.
Besaran anggaran itu memunculkan pertanyaan mengenai keterkaitan antara nilai pendanaan, produktivitas riset, dan hasil yang dihasilkan. Penelusuran lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui sumber pendanaan, skema hibah, nilai setiap proyek, serta capaian dari masing-masing penelitian.
Selain besarnya pendanaan, kedua akademisi tersebut juga memiliki rekam jabatan strategis di lingkungan UNM.
HAG diketahui pernah menjabat sebagai Direktur Program Pascasarjana UNM. Sementara BR pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UNM, lembaga yang memiliki peran penting dalam pengelolaan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di lingkungan kampus.
Rekam jabatan tersebut menambah relevansi penelusuran terhadap tata kelola penelitian, khususnya mengenai transparansi pendanaan, pelaksanaan program, serta pencapaian luaran penelitian.
Luaran Penelitian Jadi Perhatian
Dalam ekosistem perguruan tinggi, besarnya anggaran penelitian idealnya sejalan dengan capaian akademik dan manfaat yang dihasilkan. Luaran tersebut dapat berupa publikasi ilmiah pada jurnal bereputasi, paten atau hak kekayaan intelektual, prototipe teknologi, inovasi yang diterapkan, maupun rekomendasi kebijakan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Karena itu, penelusuran terhadap total pendanaan Rp6,4 miliar tersebut perlu dilanjutkan dengan memeriksa luaran dari 77 judul penelitian yang tercatat. Termasuk kesesuaian antara proposal dan hasil penelitian, status publikasi, capaian setiap proyek, serta bukti pertanggungjawaban penggunaan anggaran.
Data SINTA dapat menjadi titik awal untuk menelusuri rekam jejak penelitian dan publikasi akademisi. Namun, angka pendanaan ini bisa menjadi perbincangan di kalangan akademisi UNM.
Pada tahun 2026 UNM mengalokasikan anggaran sebanyak Rp43 miliar untuk riset, pengabdian kepada masyarakat dan publikasi internasional bereputasi.
Alokasi anggaran yang mengalami kenaikan tiga kali lipat dari sebelumnya sebagai bentuk komitmen kampus dalam mendorong percepatan riset dan publikasi internasional bereputasi.
Selain itu, alokasi insentif publikasi pada jurnal internasional bereputasi juga mengalami kenaikan cukup besar hingga 22 kali lipat. Insentif diberikan kepada dosen yang berhasil mempublikasikan artikel pada jurnal internasional bereputasi, kategori Top Tier dan terindeks Scopus Q1-Q2.
Pengajuan insentif dilakukan melalui aplikasi, kemudian di-review (dinilai) oleh reviewer (penilai) yang memiliki pemahaman kuat di bidang publikasi ilmiah serta integritas akademik yang teruji. Para reviewer tersebut ditetapkan melalui Keputusan Rektor untuk menjamin objektivitas dan kualitas penilaian.
Terkait sistem riset UNM difokuskan pada skema kompetisi yang mencakup riset kolaborasi internasional, percepatan guru besar, penelitian dasar, serta penelitian terapan.
Skema ini dirancang untuk mendorong kualitas luaran riset, memperluas jejaring global, sekaligus mempercepat capaian jabatan akademik dosen.(tim indoup)






