9

INDONESIANUPDATE.ID, JAKARTA | Aatmosfer di arena Kejurnas Tinju Piala Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur Pembangunan dan Kewilayahan (Menko IPK) 2026 mulai memanas secara eksponensial.

 

Pada Kamis siang, 22 Oktober 2026, Session 4 bakal menjadi panggung paling krusial bagi sebuah dinasti. Fokus publik dan pengamat tinju amatir tanah air kini tertuju pada satu nama besar: Masihor Bersaudara dari Sulawesi Selatan (Sulsel).

 

Tiga putra kandung legenda tinju Indonesia peraih medai emas SEA Games 1997, Dufri Masihor—Josua Holy Masihor, Yosafat Daniel Bryan Masihor, dan Izack Timothy Ricardo Masihor—akan mengadu nasib secara bergantian.

 

Tampil di tiga kelas berbeda dalam satu sesi yang sama, pertarungan ini bukan sekadar mengejar medali, melainkan sebuah pembuktian reputasi dan kelanjutan warisan darah juara di atas ring.

 

Ketegangan pertama langsung tersaji di kategori Junior melalui pertarungan kelas Men s Minimum 44 – 46 Kg. Menempati posisi di bout 50, sorot mata ribuan pasang mata penonton akan tertuju pada si bungsu, Izack Timothy Ricardo Masihor. Mengisi sudut biru, petinju muda berbakat asal Kota Makassar ini ini akan menantang ketangguhan Rahmat Putra Maulana, wakil andalan dari jawa Timur di sudut merah.

 

Bagi Timothy, laga ini adalah kelanjutan dari performa trengginasnya di hari sebelumnya setelah menang Referee Stop Contest (RSC) pada ronde kedua. Namun, duel siang ini dipastikan jauh lebih berat. Sebab  berhadapan dengan lawan yang memiliki visi bertarung seimbang dan ditunjang postur tubuh yang klebih tinggi.

 

Pertemuan kedua petinju tangguh ini diprediksi menjadi sebuah pembuktian taktis mengenai siapa yang paling layak menyandang status suksesor penguasa kelas teringan nasional.

 

Tanpa jeda lama, ketegangan di level Junior langsung berlanjut ke kelas Men’s Light Fly 48 – 50 Kg yang menempati posisi bout 54. Kali ini giliran sang kakak, Yosafat Daniel Bryan Masihor. Dia turun gelanggang membawa panji Sulsel. Lawan yang sudah menantinya di sudut seberang adalah Ezra Arjuna Montung, petinju tangguh perwakilan Sulawesi Utara.

 

Baku hantam sesama wakil Sulawesi ini diprediksi akan berjalan dinamis dan meledak-ledak sejak lonceng ronde pertama berbunyi. Kedua kubu sama-sama dikenal memiliki gaya bertarung ortodoks yang agresif dengan kombinasi pukulan hook serta uppercut yang mematikan. Daya tahan fisik dan kemampuan membaca serangan balik akan menjadi kunci utama siapa yang akan tetap berdiri tegak di akhir ronde.

 

Puncak dari heroisme keluarga Masihor siang ini akan tersaji pada kelas Elite Men’s Feather 57 Kg di bout 61 yang sangat diantisipasi. Sang kakak tertua, Josua Holy Masihor, akan melangkah mantap menuju sudut biru. Ia dijadwalkan menghadapi ujian berat dari Akbar Aroya, petinju berdarah dingin yang menjadi tumpuan kontingen Sumatera Barat di sudut merah.

 

Nama Josua Holy Masihor sendiri membawa beban ekspektasi yang sangat masif dari publik tinju Sulsel demi menjaga supremasi daerah di level elite. Datang dengan status mentereng sebagai peraih medali emas PON XXI Aceh-Sumut 2024, Holy dituntut untuk tampil tanpa cela.

 

Di sisi lain, Akbar Aroya yang dikenal memiliki pertahanan rapat layaknya tembok beton tidak akan membiarkan sang juara mendikte jalannya laga dengan mudah.

 

Pertemuan antara Holy dan Akbar dijanjikan menjadi sebuah pertempuran taktis yang menguras energi mental dan ketahanan fisik di ronde-ronde krusial. Jangkauan pukulan Holy yang tajam akan diuji oleh counter punch tak terduga milik Akbar.  Ini adalah tipe pertandingan catur di atas ring, di mana satu kesalahan kecil dalam koordinasi pertahanan bisa berakibat fatal bagi ambisi menuju final.

 

Bagi tim duet pelatih Sulsel, Dufri Masihor dan Muh Yusri That, Session 4 ini memicu situasi yang sangat kompleks dan menegangkan di bawah ring. Bertandingnya tiga Masihor Bersaudara dalam waktu yang berdekatan memaksa tim pelatih memutar otak guna membagi konsentrasi sebagai corner-man.

 

Pendampingan di sudut ring harus dilakukan secara presisi dan maksimal agar instruksi strategi bisa tersampaikan dengan baik di tengah riuhnya arena.

Rentetan laga hidup-mati ini menjadi bukti sahih bahwa Kejurnas Tinju 2026 bukan sekadar turnamen seremonial musiman belaka. Ajang ini menjelma menjadi sebuah kawah candradimuka sesungguhnya bagi olahraga adu jotos amatir tanah air.

 

Di sinilah tempat di mana mentalitas seorang juara sejati ditempa. Reputasi besar dipertaruhkan, dan peta kekuatan tinju Indonesia masa depan mulai digariskan.

 

Saat bel ring berbunyi memulai Session 4 siang hari ini, tidak ada lagi ruang bagi keraguan maupun ketakutan di dalam kotak tali pembatas. Siapapun dari para petinju muda ini yang mampu menjaga fokus tertingginya di bawah tekanan psikologis yang luar biasa, dialah yang akan keluar dari ring sebagai penguasa baru tinju amatir tanah air.(Sri Syahril)