Melalui buku BupAAS, Ashri menaruh harapan besar pada pundak generasi muda Bone. Ia ingin buku ini menjadi cermin refleksi bagi anak-anak muda yang kelak akan memegang estafet kepemimpinan. Menurutnya, komitmen dan kerja keras dalam menjalankan amanah bukanlah hal instan yang tumbuh begitu saja, melainkan harus dipelajari dari rekam jejak para pendahulu.
Menariknya, diskusi sore itu melebar menjadi sebuah refleksi yang lebih luas tentang masa depan literasi di Sulawesi Selatan. Ashri dengan tegas mengingatkan bahwa literasi sejati tidak boleh berhenti di hulu, yaitu hanya sebatas aktivitas membaca. Energi literasi yang sesungguhnya harus bergerak ke hilir melalui tindakan nyata: menulis.
Masyarakat, khususnya kaum intelektual lokal, didorong untuk mulai berani mendokumentasikan apa yang mereka lihat, rasakan, dan kerjakan. Menulis adalah cara paling elegan untuk merawat ingatan publik. Tanpa dokumentasi yang baik, pengalaman berharga dari sebuah generasi akan menguap begitu saja disapu waktu.
“Setiap perjalanan manusia itu punya cerita dan pelajaran mahalnya sendiri,” ungkap Ashri secara reflektif. Lewat buku, seluruh dinamika emosi, keberhasilan, hingga tantangan dalam melayani masyarakat terkunci rapat dalam sejarah. Generasi yang akan datang tidak perlu meraba-raba sejarah mereka jika kita rajin menulisnya hari ini.
Kehadiran buku BupAAS: Jalan Pengabdian di panggung Feslit Bone 2026 menegaskan posisi festival ini sebagai ruang apresiasi yang merdeka. Penulis lokal mendapatkan panggung terhormat untuk mengawinkan pemikiran mereka langsung dengan masyarakat pembaca, menciptakan sebuah ekosistem literasi yang sehat dan mandiri.
Ketika matahari mulai condong ke barat, bedah buku ini menyisakan satu pesan kuat bagi seluruh peserta yang hadir. Literasi pada akhirnya bukan tentang berapa tebal buku yang kita lahap dalam setahun. Ini adalah tentang seberapa dalam pengetahuan dan pengalaman tersebut diolah menjadi sebuah karya nyata yang membawa manfaat luas bagi orang lain.(asriel)






