Kemenangan beruntun ini dibuka oleh aksi memukau Marsya. Satu dari dua petinju putri dari Bumi Kondosapata yang turun di kelas 54 Kg youth putri. Gadis berusia 17 tahun tampil sangat dominan. Hingga memaksa lawannya, Lutfiana dari Kabupaten Polewali Mandar (Polman), untuk mundur atau abandon (ABD) di ronde ketiga.
Ketangguhan ini menular ke partai berikutnya. Yohannes juga sukses menyudahi perlawanan Sulhan, yang juga perwakilan Polman, setelah sang lawan menyerah sebelum ronde ketiga usai. Kegarangan petinju Mamasa kian menjadi-jadi saat Benyamin dan Melbin naik ring. Kedua petinju muda ini tampil agresif dan menyudahi perlawanan Hadir serta Saldi dari Polman di pertengahan ronde kedua.
Sementara itu, Agustinus yang menjadi wakil Mamasa lainnya, tampil sangat kilat. Ia hanya membutuhkan waktu satu ronde untuk memukul jatuh lawannya dari Mamuju, Dayat, dengan kemenangan Win Knockout (WKO). Menutup dominasi hari itu, Adiel Justrin turut memetik kemenangan abandon (ABD) setelah lawannya, Farel, memutuskan melempar handuk tanda menyerah.
Sejak awal, Ma’dika mengaku tidak membebani target juara, apalagi juara umum. Baginya, turnamen ini adalah sekolah bagi anak-anak asuhnya untuk menimba ilmu dari lawan yang lebih matang. Namun, mentalitas “pantang gentar” anak-anak Mamasa mengubah segalanya. Kurangnya persiapan teknis ditutupi oleh kombinasi bakat alami, ketenangan mental, dan semangat juang yang membara.
Fisik prima mereka juga tidak datang dari pusat kebugaran modern, melainkan ditempa langsung oleh kondisi geografis Mamasa. Berada di wilayah pegunungan yang berudara dingin, anak-anak muda ini secara alami memiliki kapasitas paru-paru dan stamina yang tangguh.







