Berguru pada YouTube dan Alam
Di balik kedigdayaan 11 petinju dari daerah yang dikenal dengan julukan Bumi Kondosapata dan dikenal dengan keindahan alam dan kearifan lokalnya, yang menembus partai puncak, tersimpan cerita unik sekaligus mengharukan. Mereka bertarung bukan dengan bekal fasilitas mewah. Atau polesan pelatih berlisensi internasional. Mereka adalah petarung otodidak sejati.
Mereka ditempa oleh alam di bawah pegunungan yang asri serta warisan budaya yang kaya. Ini menjadikan petinju Mamasa meski baru merasakan atmosfir bertinju di atas ring namun semangat mereka membara. Apalagi ditunjang dengan fisik yang tangguh.
“Atlet kami semuanya masih baru dan minim pengalaman. Bahkan, mereka latihan bukan dengan pelatih berpengalaman. Malah ada beberapa yang latihan sendiri setelah melihat teknik-teknik bertinju di YouTube,” ungkap Ma’dika Sumpulangy, Ketua Harian Pengkab PERTINA Mamasa sekaligus Manajer Tim, dengan nada bangga bercampur haru.
Cerita dari balik layar latihan mereka bahkan jauh lebih menantang dari apa yang dibayangkan orang. Tanpa adanya sarana ring yang memadai, anak-anak muda ini terpaksa memanfaatkan fasilitas seadanya. Halaman rumah, bahkan kebun diubah menjadi sasana dadakan, di mana bau keringat bercampur dengan debu tanah kebun. Alih-alih menggunakan samsak standar profesional, mereka memukul samsak rakitan sendiri yang diisi dengan serbuk gergaji. Bahkan batang kayu dan batang pisang jadi samsak apa adanya.
Setiap pukulan jab, hook, dan upper-cut dieksekusi di atas tanah. Dengan mata yang terus bergantian. Menatap layar ponsel. Mencermati setiap gerakan kaki dan ayunan tangan para juara dunia di YouTube. Lalu mencoba menirukannya dengan segala keterbatasan.
Kegigihan itu terbayar tuntas di atas ring. Tengok saja jalannya pertandingan pada Selasa, 16 September 2026. Sebanyak 15 petinju Mamasa yang naik ring hari itu, 11 di antaranya menyapu bersih kemenangan dan melenggang ke final dengan begitu mudah.







