Berprestasi Tapi tak Diapresiasi
NAMUN, di balik gemerlap prestasi tersebut, tersimpan ironi besar yang menyelimuti dunia olahraga Sulsel. Seluruh capaian mentereng di level nasional dan dunia, termasuk saat sukses menjadi tuan rumah Pra-PON 2023, diraih tanpa kucuran bantuan dana sepeser pun dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel.
Kondisi keringnya dukungan anggaran ini memantik kritik pedas dari internal organisasi. Mengharapkan intervensi finansial dari pemerintah daerah dianggap seperti sebuah kemustahilan. Memaksa pengurus harus berjuang secara mandiri demi menjaga asa para atlet.
“Mau berharap bantuan dari Pemprov Sulsel? Itu sama saja seperti kata pepatah ‘bagai pungguk merindukan bulan’. Mustahil terjadi,” cetus Sri Syahril dengan nada sindiran mendalam.
Kondisi finansial yang mandiri ini otomatis menuntut kriteria calon ketua yang tidak main-main. Selain syarat administratif seperti WNI ber-KTP Sulsel, memiliki visi-misi jelas, serta mengantongi minimal 10 dukungan dari Pengkab/Pengkot, ada satu syarat mutlak yang tidak tertulis namun wajib dipenuhi.
Sifat rela berkorban waktu, tenaga, dan fondasi finansial yang kuat menjadi modal utama. Di tengah minimnya perhatian Pemprov Sulsel selama lima tahun terakhir, loyalitas dan tebalnya dompet sang ketua baru akan menjadi penentu tunggal apakah tinju Sulsel tetap bisa melahirkan juara, atau justru mati suri.(riel)







