Harga Minyak Dunia Meroket, Ini Pemicunya

62
Harga minyak dunia naik.

INDONESIANupdate.id | HARGA minyak dunia  medroket. Mencapai angka US$ 7,96. Naik 7,6 persen dibanding sehari sebelumnya. Ini merupakan rekor baru pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB.

Kenaikan harga minyak tanpa henti itu terjadi setelah Rusia menyerang Ukraina sejak pekan lalu.  Harga minyak berjangka jenis Brent, misalnya. Untuk pengiriman Mei mencapai US$ 113,94 per barel selama sesi. Harga itu akhirnya ditutup di US$ 112,93 per barel.

Adapun harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman April menembus level tertinggi US$ 112,51 per barel. Pada akhir perdagangan, harga komoditas itu tercatat naik US$ 7,19 atau 7 persen. Lebih tinggi ketimbang sehari sebelumnya US$ 110,6 per barel.

Meroketnya harga minyak terjadi di tengah ekspektasi bahwa pasar akan tetap kekurangan pasokan selama berbulan-bulan mendatang.  Ini  menyusul sanksi terhadap Moskow dan banjir divestasi dari aset minyak Rusia oleh perusahaan besar.

Harga minyak reli hingga penutupan perdagangan dengan volume besar, dengan akhirnya patokan global minyak mentah Brent berada di harga tertinggi sejak Juni 2014. Sedangkan penyelesaian minyak mentah AS adalah yang tertinggi sejak Mei 2011.

Pada pekan ini, harga minyak Brent naik lebih dari 15 persen. Lonjakan harga tersebut terimbas sentimen negara-negara Barat yang menanggapi serangan Moskow dengan berbagai sanksi. Sejumlah sanksi itu menargetkan transaksi keuangan dan bank, yang dirancang untuk memukul ekonomi Rusia.

Adapun berbagai sanksi tersebut menghambat kemampuan ekspor dari Rusia. Salah satunya, ekspor minyak Rusia yang menyumbang sekitar 8 persen dari pasokan global, atau sekitar 4 juta hingga 5 juta barel per hari, lebih banyak daripada negara mana pun selain Arab Saudi.

Presiden Lipow Oil Associates di Houston, Andrew Lipow, menyebutkan pasar telah memprediksi bakal ada gangguan pasokan minyak dunia usai dijatuhkannya berbagai sanksi ke Rusia tersebut. “Setidaknya sebagian dari hampir 4 juta barel per hari minyak yang dijual ke AS dan Uni Eropa.”

Sementara itu, analis Goldman Sachs dalam sebuah catatan menyebutkan, jebloknya permintaan melalui harga yang masih lebih tinggi bakal menjadi satu-satunya mekanisme penyeimbangan kembali yang memadai.(sumber :tempo.co)

Harga minyak dunia naik