Namun, di balik kedigdayaan tersebut, tersimpan cerita yang mengharukan sekaligus unik. Para petinju muda Mamasa ini bertarung tanpa fasilitas mewah atau polesan pelatih berlisensi internasional. Mereka adalah petarung otodidak sejati.
“Atet kami semuanya masih baru dan minim pengalaman. Bahkan, mereka latihan bukan dengan pelatih berpengalaman. Malah ada beberapa yang latihan sendiri setelah melihat teknik-teknik bertinju di YouTube,” ungkap Ma’dika Sumpulangy, Ketua Harian Pengkab PERTINA Mamasa sekaligus Manajer Tim.
Keterbatasan modal teknis itu justru dibayar tuntas dengan mental petarung di atas ring. Mengandalkan video tutorial dari platform digital, para pemuda Mamasa mampu meruntuhkan dominasi petinju yang jauh lebih berpengalaman.
Kejuaraan di Mamasa tahun 2026 ini pada akhirnya mengirimkan pesan kuat bagi dunia tinju nasional: bahwa prestasi bisa dilahirkan dari cetakan pembinaan yang disiplin seperti Darren Camp, atau dari api tekad yang menyala di tengah keterbatasan seperti para petarung otodidak Mamasa.(asriel)







