AS Lega, Cina Tak Berikan Dukungan Militer dan Ekonomi ke Rusia

81
Pasukan tentara Cina.(IST)

INDONESIANUpdate.id | SIKAP Cina yang tidak merespon permintaan dukungan militer dan ekonomi dari Rusia terkait invasi ke Ukraina membuat pemerintah Amerika Serikat lega.

‘’Ini menjadi kabar baik hubungan AS-Cina, kata pejabat AS seperti dikutip Reuters, Selasa, 3 Mei 2022.

Sebelumnya Washington sempat cemas. Sebab dua bulan lalu, Cina termasuk di antara negara yang tidak mengutuk invasi Rusia ke Ukraina. Namun dukungan ke Moskow itu tidak diwujudkan dengan bantuan senjata dan ekonomi ke Rusia.

Namun para pejabat AS mengatakan kepada Reuters dalam beberapa hari terakhir mereka tetap waspada tentang dukungan lama Cina untuk Rusia secara umum, tetapi dukungan militer dan ekonomi yang mereka khawatirkan belum terjadi. Setidaknya untuk saat ini.

Presiden Joe Biden sedang mempersiapkan perjalanan ke Asia akhir bulan ini.  Salah satu misinya, bagaimana menghadapi kebangkitan Cina. Pemerintahan AS akan segera merilis strategi keamanan nasional pertamanya tentang kemunculan Cina sebagai kekuatan besar.

Selain menghindari secara langsung mendukung upaya perang Rusia, Cina berupaya tidak memasuki kontrak baru antara penyulingan minyak negaranya dan Rusia. Meskipun ada diskon besar-besaran.

Pada Maret lalu, Sinopec Group yang dikelola negara menangguhkan pembicaraan tentang investasi petrokimia besar dan usaha pemasaran gas di Rusia.

Bulan lalu, utusan AS untuk PBB memuji abstain Cina pada pemungutan suara PBB untuk mengutuk invasi Rusia ke Ukraina sebagai ‘kemenangan,’ menggarisbawahi bagaimana tindakan penyeimbangan yang dipaksakan Beijing antara Rusia dan Barat mungkin merupakan hasil terbaik bagi Washington.

Namun, Cina  menolak untuk mengutuk tindakan Rusia di Ukraina dan mengkritik sanksi Barat terhadap Moskow.

Volume perdagangan antara Rusia dan Cina juga melonjak pada kuartal pertama. Keduanya lalu mendeklarasikan kemitraan ‘tanpa batas’ pada Februari.

Biden sendiri belum berbicara tentang Cina membantu Rusia sejak mengatakan kepada wartawan di Brussels 24 Maret bahwa dalam panggilan telepon dengan Presiden Cina Xi Jinping, dia memastikan Xi memahami konsekuensinya.(*/risal)