Status juara nasional yang disandang Bryan dan Timothy sejak Kejurnas Palu 2025 kini teruji kembali di ibu kota. Namun, di balik kegemilangan prestasi tersebut, terselip kritik tajam terhadap pengelolaan olahraga di Sulsel.
Fakta bahwa para juara nasional ini harus berangkat tanpa sepeser pun dukungan finansial dan moral dari Pemprov Sulsel menjadi catatan merah yang mencoreng komitmen pembinaan atlet daerah.
Kondisi miris ini memaksa ketiga bersaudara tersebut membuat ikrar mandiri sebelum bertolak ke Jakarta. Mereka bertekad membuktikan bahwa harga diri dan martabat prestasi olahraga Sulsel tidak boleh mati hanya karena diabaikan oleh pemangku kebijakan di daerahnya sendiri.
Penyelamat muka Sulsel di ajang nasional kali ini justru datang dari kantong pribadi Ketua Pengprov PERTINA Sulsel, Harpen Reza Ali. Putra tokoh olahraga nasional A. Reza Ali ini menanggung seluruh biaya operasional tim. Bahkan, Harpen mengawal langsung perjuangan para atletnya secara melekat selama bertanding di Jakarta.
Langkah berani mengeksploitasi dana mandiri ini diambil PERTINA Sulsel demi menyelamatkan karier enam petinju potensial yang mereka bawa. Manajemen kepengurusan dan tim pelatih dipaksa memutar otak agar talenta emas daerah ini tidak telantar dan gagal bertanding akibat birokrasi yang pasif.
Selain trio Masihor, lini serang PERTINA Sulsel di Piala Menko IPK juga diperkuat oleh tiga petarung tangguh lainnya. Di sektor putri, ada petinju muda Andini yang turun beradu pukulan di kelas 48 kg elite putri demi menambah jam terbang di level nasional.
Sektor putri juga diperkuat oleh Hindriawati Haer, pemegang medali perunggu PON XXI Aceh-Sumut. Petinju senior Sulsel ini turun bertarung di kelas 60 kg elite putri. Dia diplot menjadi salah satu andalan untuk mendulang medali dalam kejurnas kali ini.
Skuat Sulsel digenapkan oleh Otto Gesler, prajurit TNI AD aktif dari Batalyon Kostrad Kariango. Sebagai pendatang baru di level Kejurnas, Otto langsung memikul beban berat di kelas berat 86 kg elite putra, sekaligus menegaskan bahwa tim Sulsel datang ke Jakarta untuk bertarung habis-habisan, bukan untuk meratap.(asriel)







