Kisah Ricardo Latuheru, Sang Pengadil Ring Tinju dari FIKK UN Makassar

19
Dari Kampus ke Ring Tinju 

Rekam jejak itu dimulai sejak 1998. Lebih dari dua dekade, dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Makassar (FIKK UNM) ini telah memimpin pertandingan yang tak terhitung jumlahnya. Konsistensi, ketenangan, dan integritas menjadi alasan mengapa ia menjadi langganan event prestisius nasional.

Jika ditarik ke belakang, darah tinju memang mengalir kental di keluarga Latuheru. Rivo lahir dari keluarga yang sangat dekat dengan tinju amatir. Ayahnya, Drs. John Latuheru, M.Pd, adalah tokoh wasit/hakim senior Sulsel yang sangat disegani. Praktisi berdarah Ambon itu adalah salah satu pilar PERTINA Sulsel. Sejawat almarhum Jenderal Andi Mattalatta dalam merintis fondasi tinju amatir di Indonesia Timur.

Takdir seperti mengarahkan Rivo mengikuti jejak sang ayah secara presisi. Di luar ring, sang ayah adalah dosen. Sama seperti Rivo. Di dalam ring, keduanya pun sama-sama mengabdi sebagai pengadil. Sebuah warisan profesi yang langka, yang memadukan akademisi dan pengadil ring dalam satu garis keluarga.

Warisan itu tidak berhenti di Rivo. Kakak kandungnya, Stevie Latuheru, adalah R&J (Referee & Judge) senior yang lebih dulu malang melintang hampir 40 tahun di dunia perwasitan. Estafet itu kini berlanjut ke generasi ketiga. Dua keponakannya, kakak beradik John Latuheru dan Ariel Sharon Latuheru, tumbuh menjadi atlet tinju andalan Sulsel.

Bagi Rivo, profesi ini adalah jalan pengabdian dengan suka duka yang nyata. Sukanya, ring tinju menjadi ruang silaturahmi nusantara. Ia bertemu dan berteman dengan banyak orang. Dari Sabang sampai Merauke. Dari atlet, pelatih, hingga official tim.

Dukanya pun tak kalah nyata. Sebagai pemegang palu keadilan, ia harus siap menjadi sasaran kekecewaan. Tudingan miring dan protes dari kubu yang kalah adalah risiko yang tak terhindarkan.

“Tudingan keberpihakan dari pihak yang kalah di setiap pertandingan,  selalu ada. Di cabang olahraga manapun. Meski kita sudah benar-benar memimpin dan menilai pertandingan secara adil, objektif dan fair. Tapi namanya orang kalah selalu merasa tidak puas,” ujar suami dari Dessy T. Budiardjo, itu dengan lugas.

Ia paham betul filosofi tinju amatir. Tidak ada hasil seri. Di atas ring, harus ada yang menang dan kalah. Tidak ada kata seri. Di titik itulah ketegasan seorang wasit/hakim diuji.

Bagi Rivo, integritas adalah harga mati. Di tangannya bukan hanya soal menentukan pemenang, tetapi menjaga marwah olahraga itu sendiri: memastikan setiap pukulan dinilai jujur dan setiap atlet turun dari ring dengan selamat. Dari Makassar, ia terus menjaga kehormatan itu. (Asriel)

Moment bersama Ketua Umum PP PERTINA, Dr Hillary Brigitta Lasut, SH, LLM di kejurnas Tinju di Palu 2025 lalu.(FOTO: ASRIEL)