Didampingi sejumlah Pengurus Pusat PERTINA, di depan sejumlah wartawan, Samuel Haning membongkar sejumlah fakta baru yang mengarah pada dugaan tindak pidana korupsi dan pemalsuan dokumen yang dilakukan oleh pengurus Perbati.
“Dalam sidang keempat, Menpora melalui kuasa hukumnya tetap tidak mampu menunjukkan bukti Administrasi Hukum Umum (AHU) dari Kemenkumham yang jadi bukti legalitas Perbati,” jelas tokoh olahraga asal NTT yang akrab disapa Sam Haning, ini.
Menurutnya, ketua majelis hakim sejak awal sudah memberikan kesempatan agar persidangan lebih cepat. “Namun pihak Menpora tetap tidak bisa membuktikan legal standing Perbati secara sah. Di pihak lain KONI Pusat sudah mengeluarkan surat dan secara tegas menyatakan hanya PERTINA organisasi cabor tinju yang sah,” tegas Sam Haning.
Ia kembali menegaskan PERTINA tidak akan berhenti di gugatan perdata. Sam haning dkk tengah Menyusun laporan pidana umum dan pidana khusus yang dijadwalkan akan dilaporkan pekan depan.
“Kami menduga adanya upaya pemalsuan dokumen yang tidak benar. Ada tiga akta yang kami soroti. Di antaranya terkait nama ‘Perkumpulan Sasana Besar Tinju Indonesia’ dan ‘Pengurus Besar Tinju’. Kami akan melaporkan ini dengan dugaan pelanggaran pasal 391 KUHP jo Pasal 20 UU Nomor 1 Tahun 2023,” tegasnya.
Selain itu Sam Haning juga mengungkapkan bahwa tim PERTINA sedang mengumpulkan data dan bukti kuat dan akan melaporkan masalah ini ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait adanya potensi tindak pidana khusus.
Salah satu poin paling krusial yang Sam Haning ungkap pada jumpa media tersebut adalah manipulasi status atlet. Menurut dia, fakta pahit yang dialami atlet asal NTT yang dipanggil untuk Pelatnas SEA Games.
“Atlet NTT yang saya rekomendasikan atas nama PERTINA. Tapi saattjba di Pelatnas, diakui sebagai atlet binaan Perbati dengan pemberian kartu anggota atas nama Perbati. Ini persoalan serius dan akan kami tuntut. Karena. sudah mengarah pada tindakan yang tidak benar terhadap masa depan atlet kita,” pekik Sam dengan nada tinggi.
Menutup pernyataannya, Dr. Semuel Haning meminta seluruh atlet dan pelatih di bawah naungan PERTINA di seluruh Indonesia untuk tetap fokus berlatih dan tidak terpengaruh oleh isu dualisme yang diciptakan.
“Saya harapkan seluruh atlet dan pelatih tetap melaksanakan kegiatan. Tidak ada dua matahari dalam tinju amatir Indonesia. Hanya ada satu matahari yaitu PERTINA yang diketuai Dr. Hillary Brigitta Lasut,” ujarbya.
Sam Haning di akhir keterangannya meminta Menpora dan KONI segera duduk bersama untuk mengklarifikasi hal ini berdasarkan fakta organisasi. “Jangan hanya memberikan komentar tanpa solusi,” pungkasnya.(asriel)







