INDONESIANUPDATE.ID, MAKASSAR – SORE akhir pekan tadi halaman Monumen Mandala berubah jadi lautan oranye-hitam. Sekitar 1000-an kader loreng Pemuda Pancasila dari 24 kabupaten dan kota se-Sulsel berdiri tegak, mengepalkan tangan. Di tengah barisan itu, sejarah baru KOTI dimulai.
Di atas podium, ST Diza Rasyid Ali melantik Rizal Bahri sebagai Ketua Komando Inti Mahatidana (KOTI) MPW Pemuda Pancasila Sulsel periode 2026-2031. Sabtu, 29 Agustus 2026. Bukan sekadar seremoni, tapi penegasan arah baru.
Rizal tidak langsung bicara program. Ia bicara tentang soliditas. Kalimatnya pendek, tapi menghentak.
“Sesuatu yang berat akan ringan. Yang sulit akan mudah. Jarak yang jauh akan dekat bila ada kemauan KOTI se-Sulsel,” ujar Rizal, disambut teriakan “Pancasila! Abadi!” dari ratusan kader.
Bagi Rizal, KOTI bukan pasukan seremonial. Ia menyebutnya sebagai wadah himpunan kader terbaik. Tempat di mana loyalitas diuji, bukan untuk gagah-gagahan.
Ia paham stigma yang masih melekat pada organisasi berlambang burung garuda itu. Maka ia mengulang pesan penting dari Ketua MPW ST Diza Rasyid Ali, paradigma premanisme sudah selesai.
“Itu zaman dulu. Sekarang kita anut tiga O. Omong, Otak, dan terakhir Otot,” tegasnya. Kalimat itu seketika mengubah riuh menjadi hening. Semua mencatat.
Doktrin itu ia perkuat dengan ikatan emosional. “Kader PP satu yang dicubit, semua harus merasakan sakitnya,” kata Rizal. Ia meminta kader tak takut berbuat kebenaran dan mengawal program Pemuda Pancasila hingga ke tingkat PAC.
Pesan paling keras justru datang dari ST Diza Rasyid Ali. Ketua MPW yang dikenal blak-blakan itu meminta pengurus baru meninggalkan gaya lama.
“Di MPW ada 15 badan dan lembaga sebagai eksekutor. Kita punya program baru, ayam petelur di setiap kabupaten sampai MPC, termasuk koperasi. Itu yang kita kawal, bukan otot,” kata Diza.
Diza mengingatkan, Pemuda Pancasila bisa eksis melewati 8 presiden karena tahu cara memperbaiki diri. Buktinya, hari ini kader PP ada di mana-mana. Tidak hanya di legislatif, tapi juga di eksekutif.
Karena itu, ia mewanti-wanti agar kader tidak mudah diadu domba dan dikit-dikit turun demo tanpa tahu substansi masalah.
“Yang mau protes jangan asal turun. Harus tahu dulu apa masalahnya dan harus ada solusinya,” sindirnya.
Di akhir sambutannya Diza membuat pengakuan pribadi. Sebagai Ketua Wilayah, ia mengaku sengaja tidak bermain proyek di Sulsel.
“Saya sudah korbankan diri. Karena saya tidak mau kepala Pemuda Pancasila dijadikan jaminan. Apalagi mau disetir,” pungkasnya. Sore itu, pelantikan selesai. Tapi pesan tentang otak di atas otot baru saja dimulai.(Sri Syahril)







