Bursa Rektor UNM 2026: Arifin Manggau, Kandidat Termuda yang Mengikis Sekat dengan Seni Kebersamaan

17

Keberanian itu ia kristalkan dalam sebuah kredo perjuangan lokal yang sarat makna: “Sama-Sama Ki”. Slogan khas Bugis-Makassar ini bukan sekadar pemanis baliho, melainkan sebuah ikrar untuk meruntuhkan tembok-tembok tak kasat mata antarfakultas. Arifin memimpikan sebuah ekosistem kampus di mana tidak ada lagi kasta akademik. Tidak ada pengkotak-kotakan, dan semua sivitas akademika berjalan tegak di atas lantai yang sama tinggi.

Namun, kejutan terbesar dari strategi Arifin justru terletak pada apa yang tidak dia lakukan. Di tengah riuhnya kompetisi modern yang mengandalkan mesin pemenangan, Arifin secara sadar memilih jalan sunyi dengan tidak membentuk tim sukses formal. Sebuah keputusan anomali yang lahir dari refleksi mendalam seorang akademisi yang mencintai kedamaian rumah keduanya.

Bagi Arifin, ruang akademik adalah tempat menabur benih ilmu. Bukan medan polarisasi. Ia sangat memahami bahwa tim sukses formal sering kali menjadi pemantik gesekan dan ego kelompok yang membekas bahkan setelah kompetisi usai. Dengan meniadakan struktur itu, ia ingin memastikan bahwa dinamika suksesi rektorat tetap berjalan dalam koridor kekeluargaan tanpa harus mengorbankan kondusivitas kampus.

Di balik ketegasannya mengeliminasi tim sukses, tersimpan rasa hormat yang besar kepada para rivalnya. Arifin memandang kandidat lain bukan sebagai musuh yang harus ditumbangkan, melainkan sebagai mitra berpikir yang memiliki mimpi serupa. Ia percaya, siapa pun yang melangkahkan kaki ke Gedung Pinisi untuk mendaftar, membawa niat suci yang sama: membawa UNM melompat lebih tinggi menjadi perguruan tinggi yang unggul dan bermartabat.

Rekam jejak Arifin sendiri adalah sebuah bentangan panjang pengabdian yang kokoh di UNM. Menyelesaikan sarjana di Pendidikan Sendratasik UNM pada 1999 dan magister antropologi di kampus yang sama, ia kemudian meraih gelar doktor di Universitas Negeri Semarang. Sejak resmi menjadi dosen pada 2006, separuh hidupnya telah diwakafkan untuk meneliti dan mengajarkan keindahan Seni Drama, Tari, dan Musik.

Sebelum duduk di kursi Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Arifin telah kenyang makan asam garam manajemen kampus. Ia pernah menakhodai Pusat Pengembangan Kurikulum, memimpin Pusat KKN dan Pemberdayaan Masyarakat, hingga menjabat sebagai Wakil Dekan II di Fakultas Seni dan Desain. Pengalaman manajerial inilah yang menjadi modalnya untuk menata sistem administrasi UNM ke depan.

Kini, ketua Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (DKSS) periode 2024–2029 itu telah menaruh dadunya di atas meja permainan. Langkah puitis yang dimulai dengan ketukan rebana dan filosofi angka di lantai 14 Pinisi itu kini menanti takdirnya. Arifin Manggau telah menawarkan sebuah peta jalan baru—sebuah kepemimpinan yang merangkul, tanpa sekat, dan bergerak harmonis dalam simfoni “Sama-Sama Ki”.(Sri Syahril)