Atlet MPI Sulsel Berprestasi tapi tak Diapresiasi Pemprov Sulsel

9

INDONESIANUPDATE.ID, JOGYAKARTA | Di tengah keterbatasan anggaran atlet-atlet  Modern Pentathlon Indonesia (MPI) Sulawesi Selatan (Sulsel) kembali mengukir prestasi di kancah nasional. Hal itu dibuktikan pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) yang berlangsung di Markas Akademi Angkatan Udara (AAU), Yogyakarta, 1 -5 April 2026. Atlet Sulsel mampu mendulang 5 medali emas, 4 perak dan 4 perunggu dan dinobatkan sebagai juara umum kedua setelah Jawa Barat.

Medali emas diraih dari kategori senior putra atas nama Jumaedi dan Aldo di kategori U-17 putra. Emas lainnya dari atlet U-17 putri pada nomor pertandingan Mix. Di nomor ini Sulsel tak tertandingi . Begitu juga di nomor Tetrathlon kategori U-16 putra dan putri. Dua wakil Sulsel Jinan dan Chery mampu meninggalkan seluruh peserta dengan meraih podium tertinggi.

Sementara itu empat medali perak diperoleh masing-masing Yunim dikategori senior putri, U-17 putra, Fajar dan dua medali dari dan nomor Tetrathlon U-15 putra dan putri. Masing-masing Aufar dan Afiqa. Sedangkan medali perunggu diperoleh dari Yuni pada  kategori senior putri, Fajar pada kategori U-17 putra dan dua lainnya dari U-15 putra dan putri Aufar dan Afiqa.

Sayangnya prestasi atlet MPI Sulsel tidak berbanding lurus dengan prestasi Pemerintah Provinsi Sulsel yang sangat pelit membantu atlet demi meraih prestasi. Padahal Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) MPI Sulsel, ST Diza Rasyid Ali mengaku jauh hari sebelumnya sudah mengajukan proposal ke sejumlah instansi dan lembaga demi meringankan beban dia yang selama ini mengandalkan uang pribadi mengikuti sejumlah event nasional dan internasional.

“Dua bulan lalu kita sudah mengajukan proposal ke KONI, Dispora bahkan ke Komisi E DPRD Sulsel. Kita seperti pengemis. Minta sana, minta sini.  Tapi tidak ada jawaban. Saya bingung cara berpikir pejabat di Pemprov Sulsel.  Termasuk DPRD dan KONI Sulsel. Mereka koq seperti tidak menghargai perjuangan pengurus cabor. Kita disuruh berjuang sendiri. Padahal yang kita perjuangkan ini nama baik Sulsel di kancah nasional. Bahkan internasional. Tapi mereka koq tidak peduli,” cetus Diza Ali yang mengaku sangat-sangat kecewa.

Diza juga mengaku ini untuk kesekian kalinya dia menelan kekecewaan dengan sikap pejabat Pemprov Sulsel yang sama sekali tidak serius menggelontorkan anggaran untuk kemajuan olahraga. Untuk diketahui Diza Ali sudah dua periode memimpin MPI Sulsel. Selama itu pula dia belum pernah menikmati sepeserpun bantuan dari Pemprov Sulsel. Pada laporan pertanggungjawaban periode pertamanya, Diza melaporkan dana yang telah dia habiskan selama empat tahun kepengurusannya sekitar Rp 4 miliar lebih.

“98 persen uang pribadi saya. Selebihnya bantuan dari teman-teman. Jumlah tersebut kebanyakan untuk biaya mengikuti kejuaraan nasional di beberapa kota di Indonesia dan kejuaraan internasional di sejumlah negara di dunia,” jelas adik kandung A. Reza Ali, tokoh olahraga nasional, pengusaha dan politisi asal Kota Makassar, ini.

 

Modern Pentathlon Indonesia (MPI) adalah cabang olahraga (cabor) multidisiplin. Menggabungkan lima disiplin dalam satu pertandingan, yaitu anggar, renang, lari, menembak (laser run), dan rintangan (obstacle). Sebelum obstacle ada berkuda.
Selama memimpin MPI lima tahun terakhir Diza yang merintis olahraga ini di Sulsel telah membawa atletnya berprestasi. Prestasinya pun cukup mentereng. Tidak hanya di level nasional. Diza sudah berkali-kali membawa atletnya mengumandangkan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan bendera merah putih di kancah internasional.

“Semua event nasional di dalam negeri maupun pada event internasional di luar negeri, kami belum pernah nikmati bantuan dari Pemprov maupun KONI Sulsel. Semua dengan biayai sendiri,” ungkap Diza penuh  kecewa.

Seperti biasa, demi mengikuti Kejurnas di Jogyakarta Diza harus merogoh ratusan juta rupiah demi membiayai transportasi, akomodasi, konsumsi, seragam tim,  beli peralatan dan kebutuhan tim berjumlah 36 orang. Masing-masing 23 atlet, 3 pelatih dan 6 official. Kontingen Sulsel sudah berada di Jogyakarta sejak 28 Maret. Rencana akan kembali ke Makassar Selasa, 7 April 2026.

Kakak kandung Direktur Utama PD Parkir Makassar Adi Rasyid Ali ini menjelaskan Kejurnas MPI kali ini diikuti ratusan peserta dari 20 provinsi. “Ini kami jadikan ajang pemanasan untuk persiapan menghadapi kejuaraan internasional,” jelas ibu dua anak ini.

Di tingkat Nasional, atlet MPI Sulsel cukup disegani. Jawa Barat dan DKI yang mendapat support anggaran cukup besar dari pemerintah dan KONI-nya selalu menjadi rival utama. Meski tak mendapat dukungan anggaran dari Pemprov Sulsel namun atlet Sulsel tak pernah absen berprestasi. Sulsel bahkan disegani di Indonesia.  Itulah yang membuat Diza mengungkapkan rasa bangganya terhadap para atlet yang tetap gigih berlatih dengan penuh dedikasi di tengah keterbatasan. Ia turut mengapresiasi peran orang tua atlet yang memberikan dukungan penuh.

“Kami sangat bangga kepada semua atlet MPI Sulsel yang terus berlatih meski dalam keterbatasan. Saya juga berterima kasih kepada orang tua atlet yang menjadi motor dukungan baik dari segi waktu maupun finansial,” tandasnya.(asriel)